Kembali Asing

Kembali Asing, barangkali adalah kita saat ini.

Aku pergi. Sungguh, kali ini benar aku akan pergi. Tak lagi singgah pada sebuah kata kamu, tak lagi resah pada ruang rahasia yang dinamai dengan takdir. Tak lagi menyisakan jejas yang menganga. Tak lagi ada sepercik rasa asing yang sempat menenggelamkanku dalam kata tanya semua terkait kamu.

Sungguh. Aku benar benar pergi. Kali ini aku tak main-main. Rasa-rasanya api unggunku sudah padam hanya untuk menjaga seorang kamu. Kita sama tahu, lega ketika kita menitipkan rasa pada hati yang tepat. Namun, sesak adalah ketika kita menitipkan harap pada tempat yang salah. Memaksa semua tanya yang dulu pernah ditanyakan. Lalu dengan seenaknya kita menuntut dan bertanya pada takdir, dan menyalahi keadaan. Mengapa ia tak menjadi bagian dari kita? Bisa jadi, kita yang tak pandai berkaca, atau kita yang berkaca pada cermin yang retak. Atau air keruh itu yang kamu suguhkan untukku berkaca.

Hai, Aku. Pahamilah bahwa takdir adalah perihal rahasia-Nya yang bisa kapan saja menghampiri kita tanpa aba-aba. Entah itu baik atau buruk. Tetap saja Allah yang kuasa memilihkannya untuk kita. Tak perlu protes dengan pilihannya. Begitulah cara kerja takdir. Baik bagimu belum tentu baik bagi Allah, pun sebaliknya. Buruk menurutmu belum tentu buruk menurut Allah. Terkadang, logika manusialah yang mengalahkan rasa. Tapi, tetap saja Allah maha baik. Dia pilihkan sekali lagi yang terbaik untukmu. Meskipun dengan menghilangkan semua harap yang pernah dibungkus.

Kali ini, Aku berjanji pada hati untuk tidak memberikan ruang pada sesiapa yang singgah secara tiba-tiba tanpa tujuan. Pada siapa yang sesega itu hanya untuk menyapa tanpa himbauan. Menjaga jarak ketika berbincang adalah cara terbaik dalam menjaga hati. Silahkan seorang kamu tawarkan kembali proposal pernikahanmu. Lalu akan kuberikan ruang sepaling luas untuk seorang kamu yang bukan hanya singgah, namun juga menawarkan masa depan. Juga kamu yang menetap untuk merajut visi, cinta dan doa yang pernah tertaut atau dan masih tertahan di semesta.

Senja Menunggumu, Surya

Aku terus melihatmu berdiri diantara langit-langit senja. Kau duduk saja membawa pena tinta dan buku biru. Seperti menulis kisah lama kita. Sesekali kau menoleh ketimur laut memastikan perahu tiba. Tak kunjung tiba. Dan ini sudah hari ke 137. Tapi kau tetap saja menunggu. Pakaian terusan berbunga lavender ungu. Rambut gelombang tergerai bebas sebatas siku. Ingin saja rasanya kusapa dirimu. Namun aku jauh. Jauh dari pulau rontana, seberang pulaumu.

Continue reading “Senja Menunggumu, Surya”

Dandelion Kuning

Perempuan itu masih saja bersungut pada dinding berlumut. Mencorat coret gravity lama. Tertulis kalimat untuk mereka yang jatuh pada hati manusia. Sebuah kata “I Love u mas Seno”. Dia menyilang nyilang kata yang mati. Tak bisakah dia diam? Aku muak melihat tingkahnya seperti itu sejak kemarin. Ia terlalu lama duduk dibata merah, memerahkan lutut dan betis kelam yang keluar urat urat birunya. Banyak varises. Tangan gagah perkasa bak raksasa gajah mada. Dari matanya saja aku melihat, dia sedang mencari sosok yang dirindukan. Tapi kenapa tak pernah ia datang bersama lelaki itu lagi?  Kemanakah ia pergi?

Continue reading “Dandelion Kuning”

Pada Titik Temu

Celengan Ayam jago yang telah dikumpulkan selama setahun ini masih tersimpan dilemari. Volume celengan telah melebihi kapasitas awalnya. Terlihat kertas-kertas tersembul dari lubang kecil yang berada di pungguk ayam merah itu. Munip tinggal pada dimensi ruang yang sempit. Rumah kayu menyerupai jajargenjang karena faktor masa. Hanya terdiri dua ruangan, kamar dan dapur. Mirip kontrakan, bedanya lahan tanah seluas 15 M x 25 M itu adalah miliknya yang merupakan warisan dari ayahnya. Semua harta telah dibagi sama rata. Meskipun dia mempunyai tanah yang lumayan luas, namun dia belum terpikir untuk menambah bangunan ataupun memperbesar ukuran rumah. Kesehariannya, ia bekerja sebagai buruh lepas. Meskipun nilai gajinya tidak lebih dari enam digit, dia masih bisa menyisihkan hasil keringatnya keayam jago.

Continue reading “Pada Titik Temu”