Dandelion Kuning

Perempuan itu masih saja bersungut pada dinding berlumut. Mencorat coret gravity lama. Tertulis kalimat untuk mereka yang jatuh pada hati manusia. Sebuah kata “I Love u mas Seno”. Dia menyilang nyilang kata yang mati. Tak bisakah dia diam? Aku muak melihat tingkahnya seperti itu sejak kemarin. Ia terlalu lama duduk dibata merah, memerahkan lutut dan betis kelam yang keluar urat urat birunya. Banyak varises. Tangan gagah perkasa bak raksasa gajah mada. Dari matanya saja aku melihat, dia sedang mencari sosok yang dirindukan. Tapi kenapa tak pernah ia datang bersama lelaki itu lagi?  Kemanakah ia pergi?

Continue reading “Dandelion Kuning”