Kepada Senja yang tak Berujung

Setelah hari ke-30, writing challenge selesai. Iya. Tantangannya hanya sampai hari ke-30. Sama dengan pertemuan singkatnya dengan Reno.

Kini, Arin hanya bisa duduk membuang pandangan jauh diperbatasan siang dan malam itu. Sejauh Reno pergi meninggalkan kenangan semu.

“Ah, andai saja aku tak mempercayakan rasa bahagiaku sedikit padanya”, Keluh Arin.

Continue reading “Kepada Senja yang tak Berujung”

Senja Itu

Diamnya masih saja dirindukan. Ingin Alea menyapanya ramah. Tapi enggan untuk mendahului. Karna benar kata orang, kalau saja gadis itu mengalah pada beribu alasan untuk bertahan. Tentu lelaki Sumbawa itu masih bersama Alea saat ini. Alea mengurungkan niat untuk menyeka  keringat didagu. Minggu melipat hari pun berlalu. Bulan masih saja mengadu pada minggu. Namun tahun  menolak bulan bulan sebelumnya.

“Hai, apa kabar?”

Continue reading “Senja Itu”

Sepotong Roti

Semester ini, Vebby memutuskan untuk cuti. Telah berapa kali ibu memintanya untuk jeda dulu. Seingatnya, ini kali ketiga ibu memintanya istirahat. Vebby tidak sakit, ia hanyalah terlilit biaya kuliah saja. Masalah dunia yang tidak perlu dikhawatirkan sebenarnya. Baiklah, demi perbaikan, ia menyetujui kesepakatannya tadi malam.

Libur semester telah usai, dan ia menambah jadwal liburnya beberapa bulan kedepan. Untuk pengajuan cuti, Vebby perlu memenuhi berkas terlebih dahulu. Dengan berberat hati, ia tidak ikut magang ditahun ini. Karena memang mata kuliah sudah tinggal sedikit. Hanya perlu magang dan beberapa tugas skripsi dan proposal yang nanti akan digarap.

Cuti dibulan ini lumayan lega, Iya. Tak apalah beri jeda sedikit pada pengeluaran yang terus tergerus.

Pagi ini Vebby mengambil ransel Eidernya. Ransel yang setia menemani hari-harinya dikampus. Lusuh sekali, seperti jarang dicuci. Dibeli yang model terbaru malah tidak dipakai. Lebih nyaman katanya. Kalau sudah nyaman sih memang susah ya.

Vebby pamit pada ibu. Ia mengambil sekotak nasi uduk dan teh hangat tawar di Tumbler birunya. Ia menunggu bus ditepi jalan, tepat seberang rumahnya. Karena ia harus mengurus pengajuan cutinya, ia harus berangkat lebih awal dari jadwal aktifnya perkuliahan.

“Ke Rangkas berapa, bang?”

“75 aja dek”

“60 ribu ya”

“Naiklah”

Vebby sepakat dengan harga itu. Ia naik dan berjalan kearah kiri memilih bangku dibelakang dekat jendela. Ia taruh ransel berat dan makanan tadi disampingnya. Ia gerak-gerakkan pundak tanda telah ringan dari beban tadi. Tangannya mengambil headphone dengan kursi setengah tertidur. Dia putar kumpulan lagu Westlife. Dia buang jauh pandangan kearah jendela.

“Tenang, veb. Kamu masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalanmu. Bisa jadi ini ruang untuk menelaah semua hal yang bisa dirajut ulang lagi”.

Perjalanan memakan waktu hampir 5 jam. Selama itu pulalah vebby tertidur. Bus berhenti diterminal Kampung Manggis. Kenekpun berteriak tanda perjalanan telah tiba. Kemudian, ia keluar dari pintu belakang bus. mata mencari-cari angkot 035 jurusan Rawa bebek – Paninggaran.

Didalam angkot, ia memacu kembali kepekaan telinganya dengan lagu lagu westlife. Kampus masih sepi. Ranger Oranye masih setia dengan jobdesk-jobdesknya dihari libur. Vebby melangkahkan kaki menuju loket administrasi menyerahkan berkas-berkas yang telah ia siapkan dari rumah.

“Lho, kok cuti? mau nikah?

“Vebby hanya terdiam dengan senyum yang memaksa gigi muncul.

Petugas itu seperti tahu ketika meliha mata vebby berkaca-kaca

“Kamu, yang sabar ya. Semoga tahun depan bisa kembali aktif. Anggap saja sebagai jatah libur kamu setelah beberapa tahun belakang berkecimpung didunia belajar”

“Iya bu”.

Barangkali, yang Petugas lihat vebby hanya belajar. Jauh sebelum mengajukan cuti. Jauh sebelum semester 7. Tahun kedua dia sudah memulai nyambi kerja disalah satu warung internet dekat kampus. Disitulah tambahan jajannya. Yang bisa jadi bukan sekedar jajannnya saja. Tapi ia kumpul untuk uang semeter berikutnya. Tapi, kali ini ia mengundurkan diri. Dan fokus membantu ibu dikampung.

“Kata-katanya cukup melegakan. Aku tidak mengucapkan sepeser katapun. Namun, ia manusia yang baik. Bisa merasakan apa yang dirasakan matanya, hatinya dan juga lelahnya”, lirih Vebby sambil berjalan menyusuri lorong Fakultas Pertanian.

Hari ini telah usai. Vebby kembali menuju rumahnya. Dan ia telah resmi mencutikan dirinya sendiri. Tak apalah.

Diperjalanan, ia kembali dipertemukan dengan orang baik. Perut laparnya yang dari siang tadi ia tahan, tertolong dengan tawaran dari penumpang sebelah.

“Dik, ini ada roti. silahkan ambil saja”

“Terimakasih bu”

Apa ini? bukankah ini jawaban atas laparmu. Jawaban adalah do’a ketika menahan lapar, bukan?

Sekali lagi, Tuhan menolongnya. Betapa tidak, ia yang hanya duduk ditawari makanan oleh ibu yang baru saja saya kenal.

Ibu itu bersama anak perempuannya yang tengah tertidur dipangkuannya.

“Sekali lagi, Terimakasih ibu, yang aku tidak tahu siapa namanya”, Lirih Vebby.

Perjalanan malam itu terasa begitu dekat. Dan Vebby tidak lagi memutar lagu Westlife. Ia melahap roti coklat pemberian ibu itu.

“Alhamdulillah, sedikit saja tapi bermanfaat”

Terimakasih ya Allah, engkau kirimkan orang-orang terbaik menemani perjalananku hari ini. Setidaknya, kegusaranku tentang cuti lebih meredup.

Dandelion Kuning

Perempuan itu masih saja bersungut pada dinding berlumut. Mencorat coret gravity lama. Tertulis kalimat untuk mereka yang jatuh pada hati manusia. Sebuah kata “I Love u mas Seno”. Dia menyilang nyilang kata yang mati. Tak bisakah dia diam? Aku muak melihat tingkahnya seperti itu sejak kemarin. Ia terlalu lama duduk dibata merah, memerahkan lutut dan betis kelam yang keluar urat urat birunya. Banyak varises. Tangan gagah perkasa bak raksasa gajah mada. Dari matanya saja aku melihat, dia sedang mencari sosok yang dirindukan. Tapi kenapa tak pernah ia datang bersama lelaki itu lagi?  Kemanakah ia pergi?

Continue reading “Dandelion Kuning”

Nomaden Si Penjaga Hutan

Setelah sekian lama aku berjalan, akhirnya aku menemukan sebuah pondok kecil beratap rumbai. Seharian aku dan deni berjalan menelusuri hutan rowa. Rasanya kakiku terasa begitu lelah dan sendi-sendi terasa lepas dari pergelanganku. Kurebahkan tubuhku yang mulai mencari tempat yang nyaman untuk bergolek sejenak. Deni sibuk membuka sepatunya yang dipenuhi oleh lumpur. Aku memang suka berpetualangan di hutan namun kegemaranku kali ini didukung oleh tugas tambahan untuk mendongkrak nilaiku yang sempat anjlok.

Continue reading “Nomaden Si Penjaga Hutan”

Sayap Kiriku yang Patah

Ini ceritaku. Cerita tentang salah satu sayap. Jika sang petinggi atau sang tuan mempunyai tangan kanan atau disebut orang kepercayaan. Aku mempunyai sayap kiriku. Karena tanpa sayap kiri Aku tidak bisa berbuat sejauh ini. Mengikuti dia pergi hingga menjadi kehidupan yang lebih baik. Maho adalah sayap kiriku. Dengan dia Aku bisa terbang sejauh ini. Bisa melihat isi Indonesia seluas ini. Darinya Aku mendapat banyak pengalaman. Pengalaman pahit lebih terkenang dihatiku ketika merantau di kota orang tanpa biaya yang cukup.

Continue reading “Sayap Kiriku yang Patah”

Pada Titik Temu

Celengan Ayam jago yang telah dikumpulkan selama setahun ini masih tersimpan dilemari. Volume celengan telah melebihi kapasitas awalnya. Terlihat kertas-kertas tersembul dari lubang kecil yang berada di pungguk ayam merah itu. Munip tinggal pada dimensi ruang yang sempit. Rumah kayu menyerupai jajargenjang karena faktor masa. Hanya terdiri dua ruangan, kamar dan dapur. Mirip kontrakan, bedanya lahan tanah seluas 15 M x 25 M itu adalah miliknya yang merupakan warisan dari ayahnya. Semua harta telah dibagi sama rata. Meskipun dia mempunyai tanah yang lumayan luas, namun dia belum terpikir untuk menambah bangunan ataupun memperbesar ukuran rumah. Kesehariannya, ia bekerja sebagai buruh lepas. Meskipun nilai gajinya tidak lebih dari enam digit, dia masih bisa menyisihkan hasil keringatnya keayam jago.

Continue reading “Pada Titik Temu”