Hello, Juli! Apa Kabar?

Hai, apa kabar juli?

Kita masih bisa bertemu lagi, dihari sisa-sisa dialog kita kemarin. Aku masih menyimpan rekaman narasimu yang lalu. Masih memenuhi ruang kosong diingatanku. Padahal, aku berniat untuk menyapu ruang-ruang yang berserakan disana.

Hai, Juli. Aku harap kamu baik-baik saja.

Pernah aku berdiri diantara garis waktu. Namun, kau masih saja membuntuti setiap arah kemanaku pergi. Aku ambil seember air dan kusiram pada jejak langkah. Tak menghilang juga. Ah, aku lupa, hari ini adalah musim panas. Aku kalah cepat dengan matahari yang menyerap air lebih dulu. Yang jejak langkahmu, masih kuingat lagi dan lagi.

Hai, Juli. Menghilang sajalah lagi

Aku sudah bosan untuk kau buntuti. Aku sudah mulai kesal pada seorang kamu yang tak pernah jera kuingati. Aku lupa bahwa yang mengaktifkan ingatanku adalah diriku sendiri. Bukan dia, atau seorang kamu.

Bye, Juli. Aku pergi saja kali ini dan kau juga pergi dari arah yang berbeda. Itu saja sudah cukup.

Hi, Juli!

Hi, Juli. Apa kabar. Aku harap kamu baik-baik saja. Sayangnya aku tak terlalu ekspektasi pada Juli ini.

Karena Juli, Allah benar-benar resmi menitipkan ibu dan adik kepadaku. Dari sini juga, aku belajar menegarkan diri sendiri.

Ini Juli keempat ku tanpa kehadiran beliau. Juli ini benar-benar berbeda dari saat-saat itu. Menjadi pemutus antara aku dan ayahanda. Menjadi awal kehidupan baru ayahanda. Menjadi awalku juga. Harapku, Ayah selalu berbahagia, diberikan tempat terbaik dengan penjagaan terbaik-Nya.