Kado terakhir untuk Ayah

Sepotong senja untuk kerinduanku kepada Ayah

Ketika berbicara pemimpin, pasti kita selalu merujuk pada kata lelaki. Iya, lelaki pertama yang mencintaiku tanpa syarat, Ayah. Aku masih ingat betul bagaimana keseharian waktu kecil bersama beliau. Tapi tenang saja Ayah, anakmu disini baik-baik saja. Anakmu sudah menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Ada keengganan untuk merepotkan orang sekitar. Anakmu masih berusaha untuk berbakti kepadamu. Meskipun Ayah tidak bisa menjadi wali nikahku nanti. Setidaknya ada harapanku untuk kita bisa berkumpul lagi disurganya Allah.

Continue reading “Kado terakhir untuk Ayah”

Tangis tanpa Suara

Sirine ambulance terngiang ngiang ditelinga. Pohon pun ikut tunduk dengan kepulangannya. Mendadak rumahku menjadi lautan manusia berbaju hitam lengkap dengan peci dan jilbab. Tanda duka telah menyambut kedatangan kami, Aku dan Ayahku. Hujan malam itu mengiringi kepergian ayahku tercinta. Rasa tak percaya ketika Aku harus dihadapi dengan kenyataan yang belum siap Aku jalani. Anak Yatim, begitulah gelar baru untukku. Entah kemana air mataku saat itu. disaat semua orang menangis, Aku hanya bisa terdiam melihat wajah pucat beliau. Aku menguatkan ibu yang begitu merasa kehilangan beliau. Ibu terus berada dipundakku dengan setelan baju berwarna abu-abu. Satu per satu orang bergantian datang kerumah memngucapkan belasungkawa.

Continue reading “Tangis tanpa Suara”