Kado terakhir untuk Ayah

Sepotong senja untuk kerinduanku kepada Ayah

Ketika berbicara pemimpin, pasti kita selalu merujuk pada kata lelaki. Iya, lelaki pertama yang mencintaiku tanpa syarat, Ayah. Aku masih ingat betul bagaimana keseharian waktu kecil bersama beliau. Tapi tenang saja Ayah, anakmu disini baik-baik saja. Anakmu sudah menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Ada keengganan untuk merepotkan orang sekitar. Anakmu masih berusaha untuk berbakti kepadamu. Meskipun Ayah tidak bisa menjadi wali nikahku nanti. Setidaknya ada harapanku untuk kita bisa berkumpul lagi disurganya Allah.

Continue reading “Kado terakhir untuk Ayah”