Ancaman Resesi untuk Negeriku

Oleh: Metha Anggun Bayesa

Akhir-akhir ini, resesi begitu banyak digaungkan para pengamat pemerintah. Hal itu cukup menyita perhatian bagi pemerintah. Istilah itu semakin menyebar ditelinga awam seperti saya dalam kondisi saat ini. Dimana covid-19 sudah berbulan-bulan hadir di negeri ini. Pasalnya, jauh sebelum pandemi, ekonomi Indonesia juga sudah jatuh, diambang krisis.

Continue reading “Ancaman Resesi untuk Negeriku”

Hagia Sophia: Kembalinya Fitrah Ayya Sofia

Source: Pinterest

Siapa yang tidak tahu dengan bangunan terkenal ini? Hagia Sophia atau yang biasa dikenal Ayya Sofiayang berlokasi di Turki. Dibawah pemerintahan presiden Recep Tayyip Erdogan, Hagia Sophia difungsikan kembali menjadi masjid. Lihatlah, ketika Allah letakkan kepemimpinan pada mereka yang amanah, bukankah mereka yang kelak akan menjadi penolong agama Allah? Kini, Hagia sophia telah kembali ke izzahnya sebagai Masjid bukan lagi museum yang berbayar. Maha besar Allah atas kekuasaan-Nya.

Jumat, 11 Juli 2020. Pengadilan tinggi Turki meresmikan Hagia sophia sebagai masjid sesuai fungsi awalnya. Masya Allah. Dikutip dari Kantor berita Turki bahwa kejadian ini merupakan “langkah sejarah” dalam Islam.

Ayya Sofia, selama ini sebagai saksi bisu dari berbagai transisi rezim Konstantinopel atau yang biasa kita kenal kota Istanbul saat ini. Singkatnya, sejarah Hagia sophia menjadi empat fase. Mulai dari kaum Pagan, Kekaisaran Byzantium (katolik ortodoks), kesultanan Ustmani (Islam), dan Era modern.

Saya sendiri tertegun melihat berita ini. Sungguh Allah tanamkan kepada diri mereka sebagai penolong agama Allah. Apalagi ketika melihat Turki adalah satu-satunya peradaban Islam yang tersisa saat ini. Semenjak Ataturk yang memodernisasi warga turki tempo lalu, masih banyak jejak-jejak liberalisme di Turki saat ini. Seiring berjalannya waktu, Allah kukuhkan niat awal pemimpin Turki, untuk kembali merasakan manisnya kemenangan dan kejayaan yang pernah dirasakah oleh kesultan Ustmani.

Era Kekaisaran Byzantium

Hagia Sophia, awalnya merupakan bangunan yang didirikan diatas pondasi kuil pagan pada 325 M ketika Kaisar Konstantinus I berkuasa. Lalu, bangunan ini menjadi gereja Ortodoks pada 360 M atas perintah Konstantinus II. Dahulu, Hagia Sophia hanyalah bangunan beratap kayu, jauh dari kata megah seperti yang kita lihat saat ini. Bangunan ini menjadi “Singgasana” para penguasa dan disimbolisasikan sebagai katedral paling megah. Hagia sophia pun menjadi saksi bisu atas segala konfrontasi berbagai situasi di masa itu.

Ditahun 404 M, Bangunan ini sempat menjadi korban atas kerusuhan dan pergesekan dalam perebutan kekuasaan. Yang akhirnya berhasil ditaklukkan oleh Kaisar Arkadios ditahun 395-408 M. Kemudian diteruskan oleh Kaisar Theodosis II, yang me-restruktur bangunan Hagia Sophia. Selanjutnya, ketika dibawah kekuasaan Justinan I (532 M), perbaikan bangunan terus dilakukan dikarenakan adanya kerusakan akibat terjadinya kerusuhan. Di kekuasan Justinian I inilah, bangunan Hagia Sophia menjadi yang paling mahsyur karena diakui sebagai fondasi awal dari hagia sophia yang kita lihat sekarang. Ini merupakan hasil karya dari arsitek terkenal pada saat itu atas perintah Justinian I. Bangunan ini dianggap warisan arsitektur terpenting dari era Bizantium dan merupakan bagian dari monumen warisan dunia.

Era Kesultanan Ottoman

Kesultanan Ottoman atau kesultanan Ustmani berhasil menakulukkan kekuasaan Byzantium pada 1453. Disinilah Sultan Mehmed II berperan penting sebagai pengubah status bangunan Hagia Sophia menjadi masjid. Nama dan kesucian bangunan juga dipertahankan oleh Sultan Mehmed II yang hanya merubah fungsi dari gereja menjadi masjid. Saat itu, Sultan Mehmed II hanya menutupi gambar dan lukisan yang menyimbolkan kristen dengan kain dan diplester. Dimasa kesultanan Ottoman, struktur bangunan Hagia Sophia mendapat sentuhan arsitektur yang bersorak islam. Seperti mengalokasi tempat sebagai madrasah, perpustakaan, dapur umum, mihrab dan empat menara. Bangunan ini bertahan dengan status masjid selama 482 tahun lamanya. Masya Allah.

Sampai saat ini, jejak-jejak peradaban islam yang tertinggal dan terakhir berada di Turki saat ini. Siapkah kalian dan generasi menjadi bagian dari perjuangan Sultan Mehmed II?

Era Pemerintah MMustafa Kemal Ataturk

Semenjak kesultan Ustmani terpecah dan Turki menjadi negara mendemokrasikan diri, Hagia sophia beralih fungsi lagi untuk kesekian kalinya menjadi museum. Perubahan itu dilakukan atas perintah Mustafa Kemal Ataturk, sebagai presiden dan pendiri Republik Turki saat itu. Hingga dilakukan pelepasan plester dan mosaik yang menutupi bentuk aslinya. Pada tahun 1985, Bangunan ini diakui sebagai salah satu warisan dunia UNESCO.

Era Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan

Dibawah pemerintaha presiden Erdogan, Hagia Sophia dicabut status dari muesum menjadi masjid kembali pada 10 Juli 2020. Meskipun menuai kontroversi, namun banyak warga muslim Turki yang menyambut antusias keputusan presiden Erdogan ini. Sudah lebih 86 tahun, adzan terakhir dikumandangkan dari bangunan itu.

Dari sisi UNESCO, badan ini memperingati bahwa perubahan status Hagia Sophia harus ditinjau oleh komite badan PBB tersebut. Oleh karena Hagia Sophia sejak 1985 dianggap bagian dari Situs Warisan Dunia, pengubahan status bangunan ini harus diberitahukan terlebih dahulu dan melalui proses peninjauan UNESCO.

Terlepas masih dalam peninjauan, tapi saya sangat bersyukur bahwa langkah berani dari presdien Erdogan merupakan peristiwa langka dan bersejarah di era modern kali ini. Karena seringkali, muslim di intervensi pelbagai isu politik internasional. Sepertinya, kita juga butuh sosok seperti beliau untuk negeri ini. Agar nantinya, Palestina pun bisa menjadi daftar selanjutnya untuk kita bantu dalam pembebasan. Jangan lupakan sejarah, bahwa dulu ketika Indonesia mendeklarasikan diri menjadi negara yang berdaulat, Palestinalah negara yang pertama kali dalam mengakui kemerdekaan Indonesia saat itu.

Presiden Erdogan sendiri adalah salah satu pemimpin dunia yang peka terhadap isu-isu muslim saat ini salah satunya saudara kita di Palestina. Seperti yang belia bilang, “Lebih dekat lagi ke Palestina”.

Yuk, lebih peka lagi pada hal-hal yang membangun saudaranya.

Reference

Hadi, Abdul. 2020. Sejarah Hagia Sophia, Museum yang Dijadikan Masjid Oleh Erdogan. https://tirto.id/sejarah-hagia-sophia-museum-yang-dijadikan-masjid-oleh-erdogan-fQVy. Retrieve, 22 Juli 2020. Tiro.id.

Lawakan Satire, Ancaman?

Ada banyak cara dalam mengkritisi, salah satunya dengan lawak. Melawak adalah bagian dari usaha untuk menghibur seseorang untuk tertawa dan bahagia. Belakangan masih banyak orang-orang tidak peka dengan kehadiran pelawak yang kritis. Seolah-olah hanya untuk mencari sensasi dan menjatuhkan martabat seseorang, pejabat, dan sebuah sistem.

Munculnya pelawak kritis semata-mata karena kurangnya kepekaan rakyat dalam berbagai situasi. Mereka mencoba mencuri waktu hiburan kalian, ya dengan lawakan yang muncul disosial media. Dengan begitu, kalian tak hanya fokus pada yang sekedar lucu-lucu saja. Mereka tetap lucu, tapi ada pesan dibaliknya, untuk yang sadar saja.

Namun, kehadiran mereka justru dianggap ancaman bagi pemerintah. Bukankah setiap warga boleh mengkritisi yang nantinya sebagai refleksi diri. Kalau tidak ada para pengkritik, kita tidak tahu mana yang salah mana yang benar. Semua dianggap sama benarnya, semua dianggap setuju.

Sudah hukum alam bukan? menjadi atasan berarti harus siap dengan para kritisan. menjadi yang berkuasa berarti harus siap dengan para saran. Sama halnya menjadi artis atau famous berarti harus siap dengan para netizen. Kritis bukan sekedar kritis, tapi yang lebih berbobot yang layak dijadikan sebagai bahan perbandingan dan pertimbangan. Sisanya, sandarkan penilaian hanya pada Allah. Tugas kita hanya memberi saran, kritik dan masukkan.

Tulisan ini saya angkat ketika saya melihat salah satu komika indonesia yang dikecam setelah berani speak up dengan beberapa kejanggalan pada satu case. Padahal, ia berbicara sebagai komika bukan sebagai lawyer ataupun saksi. Miris, ketika lawakan satire justru lebih mengancam. Mereka jutru terlalu menganggap serius si komika, tidak seserius ketika menangani kasus yang sebenarnya.

Untuk kedepannya, semoga tidak ada lagi perubahan paradigma dari masyarakat awan yang notabene menjadi cikal bakal pengkritik. Setiap diri butuh kritik, sebagai bahan refleksi diri atau bahan pembanding untuk dikehidupan selanjutnya.

Ketika Mall lebih rame daripada Masjid

Selama pandemi, memang sudah banyak pertokoan, perbisnisan, dan area jual-beli yang tutup. Hal itu untuk mendukung pembatasan dalam penyebaran corona virus.

Minggu lalu, saya melihat berita bahwa salah satu Mall sedang dikerubumi para calon buyer, yang mengakusisi diri untuk memanjakan dalam kebutuhan berbelanjanya. Mall sudah dibuka? lalu mengapa masjid belum juga? Sekedar belanja baju bukanlah kegiatan urgent saya kira. Bisa jadi, menjadi kegiatan penyebaran yang pasif saat ini. Dimana, semua aktifitas ritual keagamaan dan transportasi sudah mulai satu-persatu ditutup, malah ada yang menjadi salah satu pemicu. Lalu menyusul opini sebagai tameng untuk membantu perekonomian warga.

Terlalu lugu atau lucukah rakyat?

Disaat semua warga medis mati-matian menutup pintu jalan keluarnya corona, namun disisi lainya malah membuka gerbang mereka. Please, saat ini tolong tekan keinginan yang tidak urgent. Masih ada ke-urgent-an yang lain yang lebih diprioritaskan, misalnya kurangnya APD dan langkanya masker. Kalau mau, adil untuk semua kegiatan. Mall buka, yang lain juga beroperasi. Masjid tutup, yang lain dikurangi aktivitasnya. Kalau dipikir-pikir, kapan terakhir kali mendengar adzan yang menyuruh kita untuk berjama’ah lagi.

Ada banyak dari mereka yang rindu aktivitas bersama, bukan kalian saja, para pembeli mendadak . Bukan semata-mata karena mau lebaran, butuh baju baru lantas kalian membolehkan diri untuk berburu baju dikeramaian.

Disaat-saat seperti ini, kita dituntut lebih bijak dalam mengkondisikan segala hal. Menjadi ego boleh, tapi tetap dalam rutenya, jangan ajak-ajak orang lain untuk bergabung dalam ego kalian. Saya rasa, pandemi belum bisa mendewasakan diri kalian dalam memilih keputusan yang bijak. Justru tampak lebih meremehkan keadaan.

Menjelang sore, 6 Juni 2020

Insomnia: Kebiasaan atau Penyakit?

asian man in bed suffering insomnia and sleep disorder thinking about his problem at night

Assalamualaikum Shalihah!

Beberapa hari terakhir ini saya lagi gak bisa tidur. Yang kata orang orang itu Insomnia. Karena jarak kosan ke tempat kerja itu lumayan jauh. Jadi, ketika pulang malah goler goler istirahat dulu baru bersih bersih. Selesainya baru jam 12. Rutinitas malam ya seperti itu. Walhasil, terciptalah mata panda. Bangun paginya juga suka pusing jadinya.

Continue reading “Insomnia: Kebiasaan atau Penyakit?”

Introvert and Extrovert: Perlukah Social Distancing?

Assalamu’alaykum, Shalih/ah!

Well, Virus corona yang awal mulanya ditemukan di Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019 menyebar sangat cepat di Indonesia. Secara resmi, Virus ini pun sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO, sebuah organisasi kesehatan dunia, salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional dan bermarkas di Jenewa, Swiss. Tapi, ngomong-ngomong, Kalian tahu gak apa itu pandemi?

Continue reading “Introvert and Extrovert: Perlukah Social Distancing?”

Lirik Lagu Aisyah Istri Rasulullah Cover Syakir Daulay

Assalamu’alaykum Shalihah!
Apa kabar?! Hari ini mau share kekalian tentang lagu yang lagi trending no. 1 di youtube! Iya, Aisyah Istri Rasulullah versi Syakir Daulay. Lirik lagu yang ringan dan mudah dicerna untuk semua kalangan usia ini mendadak menjadi trending pertama youtube semenjak di upload pada tanggal 29 Maret 2020 di channel Syakir Daulay. Nissa Sabyan harus mengalah dulu di posisi runner up di trending youtube. Hingga per tanggal 5 April 2020, Lagu aisyah istri rasulullah yang di-cover Syakir Daulay sudah ditonton sebanyak 20 juta kali.

Continue reading “Lirik Lagu Aisyah Istri Rasulullah Cover Syakir Daulay”