Kepada Senja yang tak Berujung

Setelah hari ke-30, writing challenge selesai. Iya. Tantangannya hanya sampai hari ke-30. Sama dengan pertemuan singkatnya dengan Reno.

Kini, Arin hanya bisa duduk membuang pandangan jauh diperbatasan siang dan malam itu. Sejauh Reno pergi meninggalkan kenangan semu.

“Ah, andai saja aku tak mempercayakan rasa bahagiaku sedikit padanya”, Keluh Arin.

Continue reading “Kepada Senja yang tak Berujung”

Kidung Keluarga

“Nak, ketika ibu sudah tiada, jangan pernah merasa kesepian ya. Ada Allah dihatimu. Allah akan kirimkan orang-orang terbaik untuk menemani hari-harimu”

“Loh, kok ibu tiba-tiba ngomong seperti itu?

“Biar Nara tidak kaget nantinya, semua perlu persiapan, kan?

Kinara terdiam sebentar. Lalu melahap sisa bacaan yang belum selesai. Tentang pembicaraan ibu yang tadi, Ia masih bertanya-tanya sekaligus membenarkan. Adakalanya, kita butuh tempat bernaung, keluarga misalnya. Tapi, keluargapun juga ciptaan-Nya. Tak sepenuhnya kita menaruh harapan pada diri yang sama-sama lemah. Yang pantas kau lakukan adalah, titipkan mereka hanya pada-Nya saja. Sebab, muara cinta hanyalah tertuju pada Allah. Muara dari segala muara. Jika kau mencintai Allah, sudah menjadi otomatis, kau juga akan mencintai keluarga, pasangan, saudara, kerabat, tetangga dan orang yang kau temui dijalanpun. Karena dasar itulah yang terpenting. Keluarga, adalah perantara kita dilahirkan, dihadirkan dan tercipta.

Lamunan sore itu membuyarkan kidung yang telah Kinara cipta untuk tugas sastranya. Ia tulis ulang prosa dan lebih memerincikan makna keluarga yang sebenarnya. Ia ingin yang lain juga paham, keluarga seperti apa yang dirindukan.

“Sepertinya, kidung ini sudah cukup layak untuk dibacakan didepan kelas nanti”

Kinara menyimpan kembali laptop dan mematikan lampu mejanya. Kini, ia sudah siap tidur dan bangun menyambut esok pagi.

Jam Makan Siang!

“Reno, Ayo pulang!

Wanita paruh baya itu memanggil pemuda tangguh yang sibuk mengoperasi motor.

“Iya, Mak!

Jam makan siang adalah waktu terbaik untuk diskusi mereka. Sebab, mereka hanya punya waktu itu saja. Makan malam? Jangan terlalu berharap. Reno, terlalu sibuk untuk absen di kegiatan UMKM desa Petinggalan. Menjadi sekretaris tak layak menjadikannya bergemah materi. Tapi dia suka. Suka berkecimpung didunia jual-menjual. Termasuk dalam urusan jual-beli tanah.

“Kamu kapan mau mengajak calon istrimu, nak?

“Ibu sudah rindu untuk tinggal bertiga lagi disini”

Reno hanya sekilas memandang wanita itu. Matanya memancar harap pada Reno. Ia tak menolak jawab tak juga mengiyakan.

“Doakan saja mak, tahun ini bisa Reno bawa pulang ia”

“Benarkah? Alhamdulillah”

Jawaban tadi sebenarnya bukan salah. Hanya saja masih menjadi tanya pada siapa yang Reno bawa pulang nanti. Sengaja merebahkan diri pada bangku panjang dibengkel. Kalau-kalau saja ada yang menghampiri mungkin itulah jodohnya nanti. Ia begitu terayun pada hari hingga lupa pada pesanan emaknya tadi. Sudah hampir dua jam tertidur.

“Astaghfirullah!”

Ia bergegas menuju warung mpok Baidah membeli gula dan beras. Setibanya dirumah,

“Maaf mak, tadi Reno ketiduran di Bengkel”

“Tak apa, ayo makan! kedua sudut bibir emak membelok ke atas

Hari ini, diskusi tentang pernikahan tak kunjung berakhir. Tak apa, Renopun semangat menimpali dengan bagaimana-dan-kenapa.

Senja Itu

Diamnya masih saja dirindukan. Ingin Alea menyapanya ramah. Tapi enggan untuk mendahului. Karna benar kata orang, kalau saja gadis itu mengalah pada beribu alasan untuk bertahan. Tentu lelaki Sumbawa itu masih bersama Alea saat ini. Alea mengurungkan niat untuk menyeka  keringat didagu. Minggu melipat hari pun berlalu. Bulan masih saja mengadu pada minggu. Namun tahun  menolak bulan bulan sebelumnya.

“Hai, apa kabar?”

Continue reading “Senja Itu”

Kepada Senja yang Menungguku

Kabar baru saja menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tentang seorang perempuan dengan seperangkat peralatan lukisnya. Duduk membisu pada tepian pantai, membiarkan kaki-kaki ombak menjilati jemari kakinya dan menatap jauh ke arah laut lepas. Tepat sesudah asar, perempuan itu sudah ada di sana. Dan hingga menjelang maghrib, tangannya terus bergerak disepanjang kanvas. Orang-orang menyebutnya perempuan senja. Juga mereka tak henti berbisik dari satu kuping ke kuping yang lain bahwa perempuan itu batu karang. Dan lautlah yang telah merenggut seluruh kewarasannya. Adakah orang gila yang melukis?

Continue reading “Kepada Senja yang Menungguku”