Selamat Hari Ayah #Iniuntukayah

Teruntuk Ayahanda,

Seringkali engkau menimpali kekhawatiranmu dibalik senyum simpulmu. Mendadak menciptakan suara tawa dikeheningan. Aku pun ikut tertular bersama anak bungsumu. Itu dulu. Sekarang hening. Tenggelam bersama bayang yang sedari dulu tak mampu kutangkap.

Teruntuk Ayahanda,

Kau tahu apa yang paling membuatku rindu padamu? ketika aku mulai sadar bahwa ada kepribadianmu yang hadir juga di jiwa ini. Wajar, karena aku adalah anakmu. Sesekali ketika aku mulai ngoyo kerja, mendadak berhenti sebentar. Teringat bagaimana penampilanmu dulu sama persis denganku saat ini. Aku tertawa saja, mengingat bagaimana kejadian itu pernah aku alami dijaman dulu.

Teruntuk Ayahanda,

Katanya ini adalah hari ayah. Bagiku, setiap hari adalah harimu, Ayah. Duniaku tercipta melalui perantaramu oleh Tuhan. Hingga Aku tumbuh, berkembang dan merasakan nafas.

Teruntuk Ayahanda,

Kini aku paham bagaimana perasaanmu waktu itu. Waktu ketika aku mulai bisa berbicara, merangkak, berjalan hingga aku tumbuh dan berkembang. Wajar kau khawatir saat itu. Namun, ketika aku mengucapkan, “Selamat Hari Ayah”, bukan berarti aku membatasi hari tertentu untuk bisa mengenangmu lagi. Waktuku selalu luang untuk mengingatmu, dan baktiku selalu mengikuti masa akhirku.

Ayah, aku rindu.