Saling Jatuh Part II

Perkara jatuh lainnya yang merugikan adalah saling jatuh-menjatuhkan dikehidupan horizontal. Saya heran dengan mereka yang berdiri di garda terdepan dalam perkara ini. Apa keuntungannya? Bukankah itu sama saja dengan menjatuhkan diri sendiri dan mencerminkan adab seseorang.

Beberapa dari mereka terjebak dalam situasi kompetisi. Berlomba-lomba menjadi baik dihadapan mata banyak orang. Sisi lainnya, mereka cukup mudah mendorong orang lain terjatuh dilubang hitam. Saling menjatuhkan. Tidak banyak yang concern dengan hal ini. Karena masih banyak yang samar dimata. Jika ada yang terang-terang menjatuhkan, itu artinya mereka sudah punya segenggam kekuasaan. Dan selalu menyiapkan kambing guling. Eh, maksudnya kambing hitam.

Yang cukup menyedihkan bagi saya adalah para saksi yang tidak bisa mengugat. Justru mereka lebih banyak bungkam khawatir ini dan itu. Khawatir di downgrade, di mutasi bahkan di cut off. Ada banyak kekhawatiran yang muncul jika dan seandainya diungkap ke publik perkara saling menjatuhkan. Tenang saja, cukup gantungkan harapmu kepada Allah, jika itu saja mudah bagimu maka kau akan lebih mudah lagi jika dijatuhkan seseorang. Sebab, bagimu hanya Allah-lah tempat bergantung dan berharap.

Semasa SD dulu, mereka sering saling menjatuhkan. Semisal,

“Nilai kamu jelek ya? Yee, aku dapat 100, kamu 70?

atau

“Eh, aku punya bando bagus nih. Kamu gak ada kan? sambil senyum terkekeh

Menurut saya, hal itu biasa dilakukan anak-anak. Karena mereka tak cukup mengerti bagaimana mengontrol emosi dan menjaga akhlak. Justru terlihat lucu dan biasa saja jika peran itu dilakoni anak-anak. Berbeda jika dilakukan oleh para dewasa yang sudah memiliki pengalaman banyak pada umur. Yang sudah banyak makan asam garam. Merasa kekanak-kanakan ketika saling menjatuhkan dalam setiap perkara. Mereka menggunakan cara yang lebih ekstrem. Dan hal seperti itu sudah biasa dalam dunia kerja. Semisal, seseorang tidak suka dengan cara kerjanya dan bisa menyingkirkan seseorang dalam sepetik jari. Sebab ia cukup punya kuasa atas kendali sumber daya manusia.

Semoga, mereka yang diluar sana yang masih sibuk untuk mengurus perihal kejatuhan seseorang. Aku harap, Allah memberimu hidayah. Dan untuk yang dijatuhkan, semoga Allah menguatkanmu. Teruntuk aku, semoga aku tetap berada dirute awal.

Beberapa hari terakhir aku berhasil menjadi pengamat dadakan. Niat menjadi pengamat politik belum kesampaian, akhirnya aku hanya melunaskan keinginan pada lingkungan terdekat saja. Aku hanya geleng-geleng kepala sambil makan gorengan dengan teh yang baru saja kau seduh.

Ah, Aku lupa kau itu siapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s