Penyepi

Sudah sejak lama saya sadar bahwa saya adalah seorang introvert. Bahkan sejak duduk di menengah pertama, saya lebih nyaman untuk menulis cerita pendek dan bergumul dengan tugas-tugas dari guru bahasa indonesia, Ibu Neni. Beliaulah orang yang pertama menyadarkan saya bahwa tulisan saya layak dibaca. Semenjak kata kata hasut itu, saya menjadi terjebak dalam lingkungan ke-introvert-an dan mendadak menjadi penulis cerpen fiksi. Saya tidak kesal, yang saya khawatirkan adalah saya terlalu nyaman dengan dunia itu.

Sesekali mencoba menyamar menjadi ekstrovert, mencoba mengajak bicara seseorang dan memulai lelucon tapi gagal. Semua berakhir garing. Dan saya kembali lagi ke dunia saya. Satu dua hal saya mencoba menyerupai ekstrovert dengan memasang energi lebih banyak ketika bertemu banyak orang dan itu juga gagal. Semasa kuliah, beberapa kali saya mencoba menolak ketika dibilang introvert dan meyakinkan teman-teman bahwa saya itu ekstrovert lho! tapi penilaian seseorang kadang terlalu objektif pada diri sendiri yang menilai ala kadarnya.

Saya menganggap bahwa itu adalah bagian kelemahan saya, lalu mencoba ikut beberapa kelas public speaking dan mencoba gabung ke komunitas yang lebih luas. Dari kuliah, saya dibekali dasar-dasar ilmu komunikasi. Bagaimana cara memberi pendapat dan berdiskusi. Bagaimana presentasi dan sebagainya. Jujur, mereka yang introvert seringkali merasa terkuras energinya ketika dikeramaian. Entah sugesti atau mengada-ngada tapi memang seperti itu yang saya rasakan. Saya justru lebih mendapatkan banyak energi ketika didepan laptop, dan mengacak-ngacak wordpress dan hal lainnya.

Orang bilang, orang Jambi terkenal dengan basa-basinya. Ilmu itu saya gunakan untuk ngobrol dengan bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, yang saya temui entah di mana. Saya lebih paham mengendalikan diri kapan harus bicara dan kapan harus mendengar.

Tapi belakangan saya sadar, saya bicara hanya pada keadaan-keadaan tertentu. Misalnya, ketika saya bertemu orang yang obrolannya se-frekuensi. Atau bertemu orang yang hanya ingin ditemui saja. Mungkin karena temanya menarik dan obrolannya nyambung, atau karena orang-orangnya seru. Sisanya, saya penyepi. Saya lebih memilih di kamar tanpa diganggu.

Sebetulnya saya cenderung malas menemui orang yang mencari saya; lebih baik saya yang pergi mencari orang-orang (karena dengan begitu, sayalah yang siap bertemu). Saya bahkan gampang lelah kalau berinteraksi terlalu intens dikeramaian. Apalagi sambil ngopi dan nongkrong-nongkrong gak jelas. Saya berprinsip, ada banyak hal yang bisa dilakukan selain gibahin orang.

Saya pikir saya sudah pindah karakter dari introvert ke extrovert seiring dengan latihan dan kejoinan saya dibeberapa komunitas. Saya sudah menganggap diri sebagai ekstrovert. Yang aktif dibeberapa kerelawanan dan penggiat sosial dan banyak aktivitas dilapangan. Lagi lagi, kamar tempat ternyaman saya. Saya selalu tidak bisa lari dari layar laptop dan klik-an mouse. Disitu, saya merasa saya yang sebenarnya. Bukan tipe yang bisa begadang dan meramaikan rumah hingga tengah malam. Bukan tipe yang menjatuhkan diri pada keramaian dan menjadikan diri sebagai pelayan.

Awalnya saya pendiam, lalu mencoba mengkritik diri dan mengakusisi sebagai ekstrovert. Belakangan, saya menjadi lebih penyepi. Meskipun ada banyak telinga yang siap menampung keluhan dan keresahan tapi sedari awal saya bukanlah tipe yang seperti itu. Entah kenapa saya merasa lebih nyaman ketika mereka yang memilih saya sebagai peran pendengar. Mereka lebih percaya saya menjadi pendengar ketimbang penggusar. Rasanya lucu saja kalau seorang saya mendumel ditengah keramaian.

Dan saya menggugat diri. Itu tepat setelah saya merasa sangat kecewa pada seorang teman yang begitu saya pedulikan. Masalah yang sama dengan orang yang berbeda dan memilih telinga yang sama. Saya merasa lebih cocok menjadi pendengar ketimbang pembicara. Terlihat mereka nyaman dengan semua kondisi tepat didepan saya mereka meluapkan cerita dan kisah. Lalu, saya mulai mempertanyakan ulang diri saya. Akankah saya mengaktifkan lagi jiwa penyendiri saya? Kayaknya itu lebih tepat dikeadaan saat ini. Seorang saya terlalu mudah mengiba dan bergantung pada persinggungan dan rentan dikecewakan. Barangkali, saya saja yang terlalu lemah hati.

Entah kenapa, saya merasa lebih sehat ketika sendirian. Terlalu mandiri iya. Individualis juga iya. Apapun yang saya kerjakan sendiri. Jadi, saya hanya bertemu dengan orang seperlunya dan ketika ingin saja. Bisa dipastikan itu juga bukan pertemuan yang saling mengikat satu sama lain.

Mungkin karena itu pula dua tahun belakang ini saya lebih ingin menjadi penulis, sastrawan, pengamat dan pejuang dijalan. Dulu, saya merasa harus berorganisasi dan menggalang masa ketika saya melawan keintrovertan. Kini, daripada mendapat perang penting disebuah organisasi, saya lebih suka duduk dibelakang layar, menatap semua pertahanan dan strategi yang ada. Menjadi sutradara tidaklah buruk, terkadang ada beberapa karya yang harus siap dikategorikan sebagai karya terbaik dan itu dari tangan tangan emas mereka.

Fitrahnya manusia adalah dilahirkan sendiri dan matipun sendiri. Hanya amal-amal saja yang mengikuti. Saya menuntut diri untuk kembali pada fungsi awalnya yaitu menjadi seorang penyendiri. Bersosialisasi tetap bisa dilakukan dengan banyak hal, dan itu juga sama penting karena manusia adalah makhluk sosial. Kepedulian tetap bisa dijaga dengan banyak hal. Salah satunya adalah saya suka duduk bersama sambil berdiskusi banyak hal dan tetap suka hadir di acara komunitas, tapi itu semua bukan karena keharusan. Itu karena saya ingin. Kapan saya ingin, disitulah saya berarti sudah siap memilih mereka untuk mendengar.

Baiklah, selamat tidur, selamat bermimpi

Jelang tengah malam, 08 Oktober 2020

4 thoughts on “Penyepi

  1. Tulisannya luar biasa kak, aku pribadi merasa ngena sekali membaca tiap kalimat yang dirangkainya. Itu berasa mewakili perasaanku akhir-akhir ini..kini ku menyadari bahwa orang-orang seperti ini hanya perlu menyayangi dirinya. Terimakasih sudah membuat tulisan ini, semangat berkarya, dan salam kenal juga kak…😊

    Liked by 1 person

    1. Hai kak Anisa. salam kenal juga 🙂
      Makasih ya sudah mampir dan i know you feel. Tapi tetap semangat dan berkarya ya, barangkali bisa menjadi inspirasi buat yang lainnya.

      Like

  2. Hai kak Metha,
    Sebuah perjalanan dalam mencari jati diri yang panjang ya 🙂
    Tapi apapun label kamu, aku harap kamu bisa menikmati hidup ini dengan nyaman, dan menerima diri kamu apa adanya.
    Dulu aku juga mikir gitu sih, aku introvert atau ekstrovert?
    Karena jujur aku sendiri lumayan gampang bergaul, seneng nongkrong dan gibah wkwk astagfirulloh.. Ya tapi aku juga butuh waktu sendiriku. Aku bisa seharian gak keluar rumah asal ada laptop/hp. Aku kadang ada malesnya kumpul-kumpul, dan akhirnya nyari alesan kalau gak bisa datang..
    Sempat ngira ambivert sih, cuman ya akhirnya aku lebih fokus sama praktiknya dari pada labelnya.
    Do what you love, love what you do ❤
    Salam kenal!!

    Like

    1. Hai,kak.Yap benar sekali kak. Karena hidup adalah sebuah perjalanan. Jadi apapun labelnya tetap terus menikmati hidup. Kadang juga terlalu terpaku pada label hingga lupa sama dunia realnya. But, it’s okay kak.

      Semua orang sepertinya memang butuh me timenya sendiri dan dengan caranya masing-masing. Karena jika setelah bekeluarga, nantinya juga entah label intro atau extro akan melebur sendiri dengan beberapa aktivitas rumah tangga. Haha, entahlah hanya menerka-nerka saja.
      Yes, i should love what i do! and you too kak.

      Salam kenal ya kak!!! 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s