Kepada Senja yang tak Berujung

Setelah hari ke-30, writing challenge selesai. Iya. Tantangannya hanya sampai hari ke-30. Sama dengan pertemuan singkatnya dengan Reno.

Kini, Arin hanya bisa duduk membuang pandangan jauh diperbatasan siang dan malam itu. Sejauh Reno pergi meninggalkan kenangan semu.

“Ah, andai saja aku tak mempercayakan rasa bahagiaku sedikit padanya”, Keluh Arin.

“Sekarang, Aku harus mencari dimana sumber bahagiaku yang telah hilang”, Mbatinnya.

Semenjak ibunya meninggal tiga tahun lalu. Arin resmi menjadi yatim piatu. Kakak laki-lakinya bekerja dikota, itu yang menjadi penyebabnya mencari pelarian kesibukan abstraknya. Memandang senja yang sengaja dijingga-jinggakan oleh Arin. Padahal, biasa saja. Hanya menawarkan kebahagiaan sementara. Semu.

Perlahan ia mulai membetahkan diri untuk berlama-lama di warung mbah Rumi.

“Assalamu’alaykum, mbah. Pripun kabare mbah, sahut Arin dari kejauhan.

“Alhamdulillah, sehat nduk. Piye?”

“Rapopo mbah, pengen mampir ae”, sembari tangannya mengambil kerupuk kaleng

“Reno, tidak pulang lagi mbah?

Mbah Rumi membelalak Arin menanyai Reno. Penasaran lalu berkata,

“Pulang nduk, cuma ada urusan sebentar di kantor yang lama”

“Sampean nek bosen, mampir ae neng omah nduk, mbah juga sendiri”

“Iyo mbah”, Sahut Arin menyeringai lepas

Sepertinya pertemuan kemarin membekas dihati Arin hingga ia mencari keberadaan Reno saat ini.

Keesokannnya, selepas shift pagi, Arin mengambil perlengkapannya diloker langsung menuju ke Bukit Lembung. Arin tahu Reno lagi pergi. Tidak ada diskusi disore itu. Diskusi yang biasa ia lewati dengan membosankan. Entahlah, semenjak hari itu, berdiskusi dengannya semakin menarik. Mereka adalah dua orang yang kesepian dan dipertemukan.

Tapi, Arin tetap saja setia dengan senjanya. Entah ia menunggu senja atau ia menunggu Reno. Siapa yang lebih dulu menghampiri. Setibanya di pelataran rumah Mbah Rumi. Ia mengambil tatakan kursi abu-abunya beserta kamera. Perihal senja, sudah berapa banyak footage yang ia ciptakan. Namun, belum juga menunjukkan akhir dari cerita.

Kali ini, artikel yang ia bahas tentang pertemuan pertama. Pertemuan pertama dan barangkali terakhir. Mencoba mengubah nama tokoh dicerita itu. Menunjukkan kalau-kalau ada yang sadar dengan tulisan yang ciptakan sebenarnya adalah tentang dirinya dengan Reno. Lelaki yang Menyebalkan. Teganya bersepakat untuk melucu diantara senja. Hingga Arin kehilangan fokus pada senjanya di hari ke-28 ia menulis challenge.

Seperti biasa, setelah senjanya berlalu hingga sabit mulai berani menampakkan diri. Arin pamit untuk kembali kerumah.

“Mba, Arin pulang disek, ya!”

“Iya, nduk”

Motornya melaju diantara pohon pinang. Sepertinya mereka sudah siap panen.

***

Wajah mentari mulai mengetuk jendela Arin. Arin yang kesilauan mulai menutup kembali matanya dengan selimut biru sembari mengulet sedikit. Sebentar saja, dan ia siap untuk kembali kerja. Ia adalah kasir ditoko retail. Setiap hari selalu menyelamati pagi, siang, sore kepada tamu yang datang. Entah mereka balas atau tidak yang terpenting dia sudah melakukannya sesuai prosedur kerjanya.

Setiap didepan kantor, mata Arin selalu tertuju pada jam dinding disudut rak makanan. Sesekali ia melihat jam dipergelangan tangannya. Shift hari itu terasa lama. Padahal dia baru saja memulai kerja. Ada banyak kisah yang ingin ia jadikan fiksi dilaman blognya. Termasuk juga hal ini.

Lagi, dan lagi Arin membawa perlengkapan berburunya. Mbah Rumi sampai hafal apa yang dia bawa. Membawa kursi lipat, lalu menaruh kamera dileher, mampir ke warung belanja roti coklat dan es milo. Hari ini ia membeli tambahan mi rebus. Selalu menaruh kursi diantara celah pohon. Lalu ia menaruh kamera diatas tatakan kursi yang sudah ia siapkan. Sisanya, ia habiskan jari untuk mengetik kisah.

Hingga sampai hari ini senja pun tak menemukan akhirnya. Senja terus melakukan aktifitasnya, hadir dan usai. Berlalu begitu saja tanpa permisi pada Arin. Dan ia terlelap di kursi abu-abunya. Ia tersontak melihat handphone yang sudah menunjukkan pukul 20.00. Ia membereskan semua peralatan. Tapi rasanya ia malas pulang kerumah. Ia ingin tidur dirumah Mbah Rumi malam itu.

“Mbah,…”, Panggil Arin

Bersambung ke part 3

Lihat disini untuk part 1

3 thoughts on “Kepada Senja yang tak Berujung

  1. Pingback: Senja Telah Usai – Epilog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s