Sebelas Ramadhan Sudah

“Bu,” rajuk saya lirih. Sejak Ayah wafat, percakapan tentang kematian memang membuat saya tak nyaman.

Begitulah kira-kira dialog kami kemarin.

Aku tahu betul bahwa setiap jiwa pasti akan ada urutannya. Aku hanya berusaha menerjemahkan jeda yang tercipta diantara kami. Aku, ibu dan Ayah. Tak ada lagi kerjasama dalam melipat jarak.

Aku menjadi semakin sendu ketika menonton film yang bertemakan keluarga, tentang Ayah yang pulang kerja yang selalu dirindukan anak-anaknya. Tentang kehangatan yang mereka ciptakan. Semua ekspersi menyatu dalam satu ruangan berjajar.

Ayah, sosok yang bahkan sampai sekarang masih kurasa hadirnya, meski hampir sebelas ramadhan aku tak lagi mendengar suaranya, kenangan bersama Ayah masih menari dibenakku. Sebenarnya aku ingin kau bersama kami, bersama ketika nanti aku telah berhasil dipinang oleh seorang ia, dan kau menitip pesan padanya untuk menjagaku. Menjadi wali atas nikahku. Maaf, Ayah. Ini bukan maksud menawar takdir atas semua yang telah terjadi. Ayah tak perlu khawatir. Sebab, ada penggantimu untuk menjadi wali nikahku kelak. Kupastikan sekali lagi, bahwa aku hanya bisa menitip do’a padamu.

Sosok yang Aku hanya sanggup mengingat segala kebaikannya, segala sabarnya, segala ketegarannya. Sosok yang Aku tak bisa merasakan kehilangan atasnya, seolah ia masih ada. tersenyum dan selalu memberi support kepadaku. Kau tahu, Ayah? kakek pernah cerita semua tentangmu, tentang masa kecilmu, tentang bagaimana perjuanganmu ketika sekolah. Rasa-rasanya aku mirip sepertimu.

Aku masih ingat betul kalimat yang diucapkannya ketika diruang ICU. Kau memanggil anak-anakmu dan memeluk. Aku tak menyangka bahwa itu adalah pelukan terakhir untuk kami.

Hal yang selalu kucatat, tak sekalipun keluhan keluar dari mulutnya ketika rasa sakit itu mulai menghampiri. Hanya nama nama Allah yang bergantian ia sebut.

Sebelas ramadhan sudah, barangkali Aku yang kali ini tambah menua,-Semoga. Rumah kita terlalu sepi untuk kami bertiga. Tak adalagi suara mesin tik yang kau tekan-tekan satu persatu dengan dua jari telunjukmu. Suara itu rasanya masih memenuhi memoriku ketika di hari libur.

Sebelas ramadhan sudah, Ayah mengalami proses pengguguran dosa, –semoga, sebelum kemudian benar benar menutup mata pada 18 Juli 2009 lalu. Ini kehilangan pertama setelah juli-juli lainnya hadir.

Pada senja temaram, kau lupa menabur senyum, sebiasa hari-harimu

Pada malam, kau-mungkin aku dan mereka yang sama mengadu dikeheningan dan menyambut rindu kepada maha satu

Pada pembaringan terakhir, kau membebat tenang.

Ayahanda, pada-Nya kulangitkan seribu do’a untuk kau borong semua ketika nanti kita berjumpa.

Setumpuk rindu, 14 Mei 2020