Do’a dari Tanah Rantau

Barangkali, tentang cita yang telah usang akan kembali menapik kebiasaan hari ini. Sangat bersyukur untuk dilahirkan dari seorang wanita penyejuk hati ananda. Mungkin, doa yang telah ibu langitkan sudah banyak sekali, hingga aku memborong kebaikan-kebaikan hingga sampai saat ini. Kebaikan bertemu dengan sesama perantau di bis. Kebaikan bertemu dengan seorang ibu penjual kerupuk. Kebaikan bertemu dengan pemulung kecil dari tanah timur. Ceritaku bukan apa-apanya bagi mereka. Kisahku hanya sebagian kecil dari hidup mereka.

Continue reading “Do’a dari Tanah Rantau”

Secukupnya

Pernah kuborong rasa kepemilikkan pada seseorang, nyatanya tak akan menjadikanmu sebagai pemilik yang sebenar-benarnya.

Titip rasa itu sekedarnya saja, secukupnya saja, seperlunya saja. Sebagai pembelajaran, bahwa akan ada ruang untuk menaruh hati sepenuhnya. Ketika akad telah terucap, disitulah kamu layak menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya. Lantas, dari sebelumnya kamu akan belajar. Bagaimana yang bisa aku taruh hati, siapa yang aku percayakan dia yang mampu menjaga hati yang kutaruh diruang kosongnya. Bukan sebagai kepemilikkan, namun sebagai orang yang diamanahkan.

Continue reading “Secukupnya”

Memaknai Pulang

“Bude, Aku pulang dulu ya? “

“Nggih, yu. Tiati neng dalan yo”

“Nggih”

Aku melihat Bayu membawa sekoper baju baru untuk dibagikan kepada keponakan-ponakannya dikampung. Membawa makanan khas kediri, gethuk pisang. Juga sekarung beras untuk persiapan lebaran.

Lebaran selalu menjadi identik dengan makanan-makanannya, dengan berbagai ritual agama, baju baru dan angpau pada mereka yang masih kecil. Kupandangi saja, motor Bayu yang sudah hampir dipenuhi makanan dan barang. Didepan ia taruh minuman kaleng dan makanan. Dibelakang ada dua kardus berisi baju dan satu koper abu-abu. Tidak ada ruang lagi untuk memnbonceng satu orang lagi.

Pulang kampung saja, bekalan yang dibawa banyak sekali. Bagaimana dengan kampung yang sebenar-benarnya kampung kita semua?

Lagi-lagi, aku berprinsip bahwa semua yang dilihat, dirasa dan didengar adalah hal yang saling berkaitan. Allah selalu menitipkan syarat-syarat pada tiap hal yang diketahui. Bukan tanpa sebab, sejatinya kita disini pun juga ada alasan. Bukan sekedar hidup dan makan.

Aku kembali menegur diriku yang masih saja lalai dalam memanfaatkan waktu. Bisa jadi, mereka yang telah mendahului menyesal dan meminta kembali dilahirkan. Lalu mengapa kita tidak memanfaatkan sebaik-baiknya ketika masih disini. Dunia ini maksudnya.

Bayangkan, ketika seorang Bayu yang hanya pulang seminggu, namun bekalnya saja sudah memenuhi seluruh onderdil motor. Bagaimana kita nanti ketika tiba dikampung yang namanya akhirat. Sudah cukupkah bekal kita? Rasa-rasanya kita tak lagi memikirkan yang namanya makanan oleh-oleh khas dunia, semua juga nanti akan lenyap ketika tiba dipintu pertama.

Persiapkan sebaik-baiknya persiapan. Entah nanti atau esok atau seterusnya. Seperti ungkapan:

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”

Sebab hidup hanyalah tentang perjalanan lainnya yang tertunda.