Diskusi Senja

Pada sabtu sore kita berbincang dipelataran rumah. Kusuguhkan teh tawar dengan cookies coklat kesukaanku. Ternyata kau menolak untuk makan cookies hari ini. Terlalu manis. Jadi, aku lebih biasa makan yang tawar hingga saat ini. Tak ingin lagi menjamu yang datang dengan yang manis. Kehidupanku yang membiasakan harus bersahabat dengan yang tawar-tawar. Agar tak terlalu menaruh harap pada rasa, meskipun itu sebuah perut yang akan memakannya nanti.

Continue reading “Diskusi Senja”

Mendidik Hati

Adalah kamu, yang mampu membuat setiap doa yang dilangitkan di penghujung malam. Adalah kamu, yang mampu membuatku terbangun untuk melangitkan namamu. Adalah kamu, yang mampu membuatku tak pernah berani berharap kepada selain-Nya. Adalah kamu, yang membuat diri ini selalu menjaga jarak dengan lainnya. Adalah kamu, yang mampu membuat diri ini tak punya kuasa untuk memintamu secara langsung. Adalah kamu, yang membuat harapan menyatu dengan semua tujuan yang sama. Adalah kamu, yang setiap harapan menembus batas jarak. Adalah kamu, yang membuat diri berlaku semestinya. Adalah kamu, yang membuat hati tak boleh membuat persinggahan diruang tunggu. Adalah kamu, yang menata hati sekali lagi sebelum Yang Maha mempunyai ruang memberikan ketetapan-Nya.


Diruang tunggu, aku menjaga erat untuk sebuah nama yang masih menjadi rahasia, yang masih menjadi milik-Nya. Saling melangitkan nama dan do’a yang sama memintamu untuk menujuku. Saling menemukan tak apa asal menjaga. Dihadapan pemilik hati, kuucap dengan sepenuh hati; Apapun akhirnya, bukankah kita tengah sama-sama berjalan menuju ketetapan-Nya?