Menjadi Naif

Sesekali menjadi naif tidaklah buruk

Seperti merasa bahagia melihat seseorang yang kita damba hidup bahagia bersama orang lain. Merasa lega dengan pilihannya. Merasa aman untuk ditinggal. Meskipun dulu ia pernah menawarkan masa depan dan menjadi daftar kebahagiaannya sesaat sebelum pikirannya berubah. Kita memaafkannya. Meski, boleh jadi seseorang itu pernah mewariskan jejas yang lama ditinggalkan.

Continue reading “Menjadi Naif”

Kukira Kau Rumah

Sebenarnya, kalau kita bilang rumah adalah tempat ternyaman. Aku setuju! Menjadi tempat bangkit seusai melepas energi. Menjadi tempat bernaung atas cuaca yang tidak terprediksi. Menjadi tempat yang hangat dalam membangun harmonisasi.

Ada beberapa hal yang dikecualikan. Semisal kisah ini.

Rumah yang perempuan itu bangun, belum sempat ia tinggali. Sebab, Tornado lebih dulu mengamuk dibanding amarahnya. Masih menjadi tempat ternyaman? tentu tidak. Justru -kalau aku- ingin cepat-cepat rasanya pindah rumah atau mencari rumah yang layak huni saja. Padahal, dulunya aku kira, rumah itu adalah seorang ia atau seorang ia adalah rumah.

Mudah saja bukan semesta membalikkan fakta yang sebenarnya. Lalu mengapa kita terus mengeluh pada sesuatu hal yang jelas-jelas tidak pasti. Kau bisa saja membangun kembali rumah di Tanah itu. Tapi aku, lebih memilih pindah rumah atau mencari tanah baru. Menjauh dari tornado yang sesekali datang diakhir musim panas. Barangkali aku tak perlu sesegesa itu. Aku butuh waktu untuk mendapatkan rumah yang baru. Rumah yang layak kita huni nanti, pada seorang ia.

Sebuah Catatan perjalanan #1

Adalah buku sebagai perjalanan hidup dan halaman sebagai kejadian demi kejadian.

Terkadang, ada halaman yang ingin kita robek dan buang. Ada halaman yang ingin kita hapus lalu ditulis ulang. Ada halaman yang tidak terlalu menampakkan kebermanfaatannya. Dibiarkan saja. Kadang ada yang membuat kita ingin nge-bookmark halaman tersebut.

Namun, itu tidak berlaku pada buku kehidupan. Buku kehidupan berbeda. Dia bekerja dengan caranya sendiri.

Menjadi karya yang bagus adalah keinginan semua orang. Harapannya adalah bagaimana menjadikan buku itu bagus dan menjadi manfaat untuk banyak orang.

Adalah dengan mengisi halaman-halaman selanjutnya dengan kebaikan, dengan keindahan, dengan kebermanfaatan. Sehingga, halaman-halaman yang tidak diinginkan akan tertumpuk jauh kebelakang. Jauh bersama kejadian yang sengaja ingin terlupakan.

Sebaliknya, gantilah dengan kejadian-kejadian yang indah dengan mengisinya dengan banyak hal yang baik. Tak peduli seberapa tebal atau tipis buku yang kita miliki. Yang dikenang baik akan selalu tertanam.

Melanjutkan Rindu

Apa itu rindu?

Entahlah, aku pun masih menerka-nerka rindu yang sebenar-benarnya seperti apa. Barangkali tentang sebuah rasa ingin ketika berada dijarak yang berbeda, atau perihal rasa yang dipaksa sembunyi pada waktu yang salah.

Pernah suatu hari aku melipat jarak, namun tak cukup bisa aku menggunakan rindu selayaknya rasa. Telah banyak rindu-rindu yang telah tertumpuk diruang ingatanku.

Pernah juga aku menggunakan rasa ini, tapi berbeda. Bukan pada sembarang orang. Bisakah kau beritahu, sebenar-benarnya rindu?

Rindu pada sebuah nama yang masih menjadi rahasia langit

Rindu pada seorang Ayah yang mendahului diri

Rindu pada ibu nun jauh di Sumatra

Rindu pada mereka yang pernah mengisi cerita dengan hal-hal yang manis

Ketika kau teringat dengan dia yang menyakiti, apakah pantas juga disebut rindu?

Rasanya aku perlu tulis ulang deskripsi rindu yang sebenarnya. Agar tak ada nama yang terselip diantara hak rasa untuk mereka yang memiliki. Hingga seorang ia tersenyum ketika jarak kita sama-sama jauh, disitulah rindu yang sebenar-benarnya hadir.

Lalu, akupun bisa melanjutkan rindu kembali tanpa khawatir.