Yang Pada Tempatnya

“Diam sehingga engkau diminta untuk berbicara lebih baik daripada engkau terus berbicara sehingga diminta diam”

-Ali bin Abi Thalib-

Beruntungnya mereka yang hemat berbicara. Ketika membaca kutipan ini, saya sempat berpikir dua kali. Sesimple itu ternyata untuk terhindar dari dosa. Terkadang jarang sekali diterapkan oleh sebagian orang atau diri kita sendiri karena luput termakan asumsi.

Semakin bertambah usia, tentu semakin banyak pula pengalaman dalam hidup. Salah satunya adalah pengalaman bertemu banyak yang orang-orang baru dengan kepribadian yang jelas berbeda-beda. Tidak jarang juga kita mendapati komentar atau perkataan yang nyeleneh dan gak enak dari orang lain. Tapi memang secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, bukan hanya diri sendiri saja yang sering mendapati hal itu, tetapi pasti orang lain pun juga pernah mendapatkannya dari kita bukan? Saya mengakui jika ada kesalahan dalam berbicara yang barangkali saat itu amarah saya ditunggangi oleh bukan diri saya. Melainkan syaitan yang selalu memantik marah.

Hidup itu terus berputar dan saya setuju. Kita bukan hanya korban, karena tidak jarang kita juga menjadi pelakunya. Waktu juga berlalu begitu cepat. Jadi sebelum saling menyalahkan, ada baiknya kita sama-sama saling intropeksi diri. Sebab, bukan hanya orang yang berbuat salah, kita pun juga pasti pernah. Pada setiap kejadian yang dilalui oleh saya yang meninggalkan luka, saya mohon maaf pun sebaliknya.

Sebenarnya hal ini hanyalah tentang pengulangan pada diri saya, apalagi pekerjaan saya yang tiap harinya tidak sedikit bertemu orang-orang. Jadi sampai saat ini pun saya masih butuh toxic agar tau penawarnya dan membentuk antibodi. Percayalah, antibodi yang nanti diterima tentu jauh lebih kebal dari sebelum-sebelumnya. Dan itu jadi salah satu bahan pelajaran yang selalu saya ingat hingga hari ini yaitu  bahan pelajaran tentang etika berbicara. Ada beberapa basa-basi dalam berbicara yang sepengetahuan saya ada baiknya tidak diungkapkan ataupun dipertanyakan. Entah itu kepada orang yang tidak dikenal, baru dikenal, atah bahkan kepada kerabat dekat sekalipun, seperti:

Reaksi keluhan orang lain.

“Jangan ngeluh terus, masih banyak yang lebih sulit dari kamu.”

“Masalah lu mending, nah gua, apa kabar?

Well, kita ini manusia dan pasti setiap dari kita punya kesamaan, sama-sama punya masalah dan sama-sama selalu diuji tapi tentu dengan cara berbeda sesuai porsinya. Karena itu masalah kita mungkin berbeda-beda. Tapi, bukan berarti bisa ditandingi atau malah menjadi bahan perbandingan antara satu dengan yang lainnya.

Memang sih saya termasuk hati-hati dalam menanggapi jika ada orang yang hadir menumpahkan segala curahan masalahnya kepada saya, padahal apa yang ia alami tentu bukanlah perkara yang sulit dan bukan juga perkara mudah. Tapi jika saya mengatakan bahwa mereka terlalu banyak mengeluh, masalahnya sepele dan sebagainya, itu keliru. Karena memang saya tidak tau persis bagaimana keadaan sebenarnya.

Lagipula kalau dipikirkan kembali, kesulitan ataupun kesedihan itu bukan untuk dijadikan perlombaan. Jadi, tidak perlu seolah berlomba-lomba siapa yang paling berat masalahnya atau siapa yang paling menyedihkan. Kita sama sekali tidak butuh itu, kita hanya perlu saling menghargai, menguatkan dan mendoakan. Bahkan kalau bisa saling membantu.

Menanggapi hal itu kalau saja kita berusaha untuk mau memahami, terkadang seseorang itu hanya butuh didengarkan. Kalaupun butuh saran pasti mereka memintanya. Jadi saya kira cukup posisikan diri sebagai pendengar yang baik tanpa perlu berkomentar apalagi menyudutkan.

Tentang karir.

“Umur segini masih minta pada orang tua, kamu gak malu sama mereka yang udah gak minta lagi pada orang tuanya, udah bisa beli motor sendiri bahkan sebentar lagi mau beli tanah pake uangnya sendiri, tinggal bangun rumah dan menikah aja”

“Kok masih nganggur aja? yang lain udah pada kerja”.

Perkataan-perkataan ini saya kira sudah seringkali kita dengar, entah dari seorang teman, saudara, atau bahkan orang tua kita sendiri. Sebelumnya saya berpikir barangkali apa yang dikatakan punya maksud baik untuk memotivasi dan menyadarkan. Tetapi kalau dengan perkataan seperti itu malah keliru, bahkan terkesan menyudutkan dan merendahkan. Tidak tepat.

Rezeki sudah ada yang mengatur itu pasti, selama orang itu masih ‘berusaha’ mencari, maka baiknya kita tidak perlu mencecar dengan pertanyaan seperti itu. Karena kita tidak pernah tau sudah sekeras apa ia berusaha mencari pekerjaan. Lagipula barangkali memang belum waktu dan rezekinya.

Yang pasti setiap dari kita perlu memahami bahwa tidak perlu membandingkan waktu sukses seseorang dengan orang lain. Karena setiap orang pasti relatif dalam mendefenisikan keberhasilannya. Apalagi setiap orang pun ada punya pilihan hidup dan jalan masing-masing. Jadi cukuplah kita doakan atau kalau bisa bantulah dia mencari pekerjaan.

Tentang pernikahan.

“Lu kapan menikah? Kenapa belum juga merencanakan pernikahan?”

Ttidak bisa dipungkiri memang pertanyaan ini seringkali muncul dan malah seakan-akan menjadi terror yang menghantui tiap harinya bagi mereka yang sudah menginjak usi 20-an ke atas. Mungkin terdengar umum, tapi saya yakin pertanyaan yang satu ini malah menjadi musuh besar bagi sebagian orang hehe. Dan saya kira tidak perlu dijelaskan lebih detail ya.

Tetapi kira-kira sama seperti sebelumnya, ada beberapa alasan yang menjadikan ini sebagai pertanyaan yang sensitive bagi beberapa orang tentunya, karena kita tidak pernah tau, barangkali ada dari mereka yang sebelumnya sudah ada rencana menikah tapi gagal, atau mungkin sempat bersama seseorang tapi hubungannya kandas tak berujung ke pelaminan. Ada juga yang ditinggal menikah karena putus janji. Jadi saya rasa tidak perlu dipertanyakaan. Kalaupun perlu, kita perlu lihat bagaimana kondisinya. Kadang sesuatu yang baik tapi jika tidak pada tempatnya malah akan berbalik.

Everywhere, kejadian dan kondisi tentunya masih banyak lagi. Dan sebenarnya saya sudah cukup banyak meringkas, alhasil tetap panjang juga haha. Tapi itulah kadaan yang sering dialami banyak orang termasuk saya. Karena memang ini seperti sebuah pola yang berulang. Hanya saja saya banyak belajar dari pola ini bahwa hal kecil bagi kita bisa sangat berarti bagi orang lain dan perkataan yang kita anggap sepele pun sangat mungkin menjadi pressure bagi hidup orang lain.

Jadi, mari kita sama-sama belajar menghargai perbedaan, waktu dan juga menghargai orang lain atas keputusannya, serta selalu berpendapat tanpa mengurangi rasa hormat.

Dan semoga setelah ini kita menjadi lebih sadar dan ada perubahan dalam diri kita walaupun sedikit. Setidaknya tetap ada. Segalanya memang butuh proses, yang terpenting adalah kita berprogres.

Source: tumblr.com/tapakkujang