Jam Makan Siang!

“Reno, Ayo pulang!

Wanita paruh baya itu memanggil pemuda tangguh yang sibuk mengoperasi motor.

“Iya, Mak!

Jam makan siang adalah waktu terbaik untuk diskusi mereka. Sebab, mereka hanya punya waktu itu saja. Makan malam? Jangan terlalu berharap. Reno, terlalu sibuk untuk absen di kegiatan UMKM desa Petinggalan. Menjadi sekretaris tak layak menjadikannya bergemah materi. Tapi dia suka. Suka berkecimpung didunia jual-menjual. Termasuk dalam urusan jual-beli tanah.

“Kamu kapan mau mengajak calon istrimu, nak?

“Ibu sudah rindu untuk tinggal bertiga lagi disini”

Reno hanya sekilas memandang wanita itu. Matanya memancar harap pada Reno. Ia tak menolak jawab tak juga mengiyakan.

“Doakan saja mak, tahun ini bisa Reno bawa pulang ia”

“Benarkah? Alhamdulillah”

Jawaban tadi sebenarnya bukan salah. Hanya saja masih menjadi tanya pada siapa yang Reno bawa pulang nanti. Sengaja merebahkan diri pada bangku panjang dibengkel. Kalau-kalau saja ada yang menghampiri mungkin itulah jodohnya nanti. Ia begitu terayun pada hari hingga lupa pada pesanan emaknya tadi. Sudah hampir dua jam tertidur.

“Astaghfirullah!”

Ia bergegas menuju warung mpok Baidah membeli gula dan beras. Setibanya dirumah,

“Maaf mak, tadi Reno ketiduran di Bengkel”

“Tak apa, ayo makan! kedua sudut bibir emak membelok ke atas

Hari ini, diskusi tentang pernikahan tak kunjung berakhir. Tak apa, Renopun semangat menimpali dengan bagaimana-dan-kenapa.