Wajarkah Khawatir Perihal Jodoh?

Beberapa menit setelah sidang skripsi, salah satu dosen nanya gini, “Jadi, habis ini mau nikah met? kapan? Saya cuma senyum simpul saja.

Barangkali banyak diantara kalian yang seringkali menerima pertanyaan seperti ini. Apalagi jika setelah lulus, masih nganggur, nunggu panggilan kerjaan lama. Tetangga sudah pada “Gumush” duluan nanya kerja di mana? Alhasil survey tertinggi dari pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyakan untuk para jomblowers adalah “Kuliah dimana? sudah punya perkerjaan? kapan menikah? kapan mau dikenali ke orangtua?”.

Continue reading “Wajarkah Khawatir Perihal Jodoh?”

Tentang Patah

Ada banyak cara seseorang untuk sembuh dari jejas yang masih menganga. Semisal, nangis sejadi-jadinya untuk rasa yang telah patah, untuk hati yang terluka. Ada mereka yang memaki-maki seseorang yang menjadi pelampiasan amarahnya. Ada mereka yang mencari hati yang baru sekedar untuk membiaskan kenangan lama yang baru saja disudahi. Ada mereka yang sibuk dengan kegiatan baru, kalau-kalau saja dipertengahan jalan sudah melupakan seorang ia yang meluka. Kamu yang mana?

Pernah temanku bercerita tentang kepatahhatiannya yang disengaja. Lalu ia pergi menghilang. Setahun setelahnya kudengar ia pergi ke Pulau We, dan menikah disana. Ada lagi saudaraku bercerita tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan, lalu ia pergi merantau ke Ibukota. Setahun kemudian balik lagi ketempat asal. Lalu, tetanggaku patah, kemudian berkeliling indonesia, menjadi pendaki, menjadi backpacker, mencoba segala olahraga yang memacu adrenalin, lalu kini ia menjadi lebih kuat dari biasanya.

Apakah kehilangan dan bepergian selalu saling berkaitan? Ada banyak mereka yang kutemui mereka yang patah hati selalu pergi merantau atau jalan-jalan. Kalian bukan lari dari takdir, kan?

Tiga dari lima orang yang kutemui, mereka selalu melebur rasa patahnya menyatu pada dinginnya ibu kota. Sudah menjadi kabar, kalau Jakarta keras. Barangkali kerasnya jakarta bisa meruntuhkan segala kepatah-patahan yang ada. Apakah sekarang sudah baik-baik saja?

Sering kutemui mereka yang patah hati melahirkan kopi, senja dan hujan. Entahlah apa alasannya. Kalau kutanya, jawaban mereka selalu klise.

Kopi, adalah benda pahit yang sengaja dicampurkan gula. Mereka lebih banyak waktu menghabiskan waktu untuk ngopi. Sebenarnya bukan itu saja, diantara kopi ada banyak cerita. Salah satunya tentang patah yang tak berkesudahan. Selebihnya, ide-ide absurd mereka untuk jalani kehidupan. Mereka jadi lebih banyak hunting coffee shop hanya untuk menyembuhkan pahit yang tersisa. Dan Voila! beranda sudah penuh dengan postingan kopi mereka.

Lalu, senja?

Dari senja kita belajar bagaimana memaknai ketiadaan yang abadi. Nyatanya, mereka yang indah-indah hanya memiliki kehidupan dengan durasi yang pendek. Banyak yang tersihir dengan jinga-jinga senja. Sampai lupa, ada kehidupan setelahnya. Barangkali, kau belum makan malam, atau sekedar sikat gigi.

Hujan bagaimana?

Banyak mereka yang mendadak menjadi pecinta hujan. Alasan yang mereka selalu utarakan adalah menjadi sendu. Yah, barangkali sendumu itu tertutup dengan ratusan rintik hujan yang jatuh. Sebab, air matamu tak lagi menampakkan sayu tangisan tadi malam. Itukah?

Kopi, senja dan hujan ketika bersatu adalah mereka yang telah berhasil menaklukkan segala kepatah-hatian dan memutuskan menerima takdir. Mereka juga berhasil untuk tidak mengadu lagi pada hati-hati yang lain. Iya.

Lalu, kapan kita ngopi dipenghujung senja di tepi pantai. Kali ini, aku mau tanpa hujan.

Kau tahu, hujan di tepi pantai adalah yang terambigu. Aku khawatir kau lebih memilih hujan daripada menikmati senja. Ah, aku lupa. Pantai selalu kehilangan senja ketika hujan datang.