Secangkir Teh Tawar

Disebuah pelataran rumah bersama fajar yang siap menyambut hari-hari dibulan Juli. Jelang matahari meninggi, kuseduh 2 cangkir teh. Kusuguhkan bersama sekotak gula merah, untukku dan seorang ia.

Aku langsung menyeruput teh tawar yang biasa diminum menjelang siang. Tidak ada rasa. Hanya seperti saja. Sesekali pekat yang mendominasi.

Continue reading “Secangkir Teh Tawar”

Memaknai Fitrah

Perempuan adalah fitrahnya melahirkan. Menjadi ibu adalah cita-cit tertinggi seorang perempuan. Ketika mereka bermimpi untuk menjadi wanita karir, menikah dengan pangeran Arab, jalan-jalan keliling Eropa, itu tidak berlaku saat ini.

Sebagai izzah dan iffahnya, perempuan cenderung malu untuk tampil jika berbicara didepan umum. Entahlah, aku kebingungan apakah ini introvert atau memang fitrah perempuan. Bisa jadi, selama ini kita memaknai salah pada kata ini. Tapi yang aku paham, bagaimana cita-cita itu hadir sendirinya disetiap jiwa perempuan. Terlepas apakah dia memiliki keinginan lainnya.

Continue reading “Memaknai Fitrah”