Mengikhlaskan Rasa

Aku ingat, ketika aku kehilangan dan tak ada air mata yang menyapa, itu artinya aku benar-benar ikhlas. Rasanya, kejadian ini pernah terulang pada sebelas tahun yang lalu. Saat aku menghantarkan Ayah menuju peristirahatan terakhirnya.

Aku berasa mengalami dejavu pada tahun tahun sebelumnya. Pada seorang ia yang hilang dan air mata kembali tak hadir kali ini. Perihal ikhlas, aku benar-benar ikhlas kali ini. Tak akan kuprotes pada yang kusebut takdir. Semua karena Allah yang menguatkan. Sebab aku pernah kehilangan jauh lebih banyak rasa yang habis ketika sebelas tahun yang lalu. Dan ini, adalah salah satu bagian kecil dari hari itu. Bukan apa-apa.

Continue reading “Mengikhlaskan Rasa”

Menata ulang rasa

Jelang subuh, aku kembali menata meja. Merapikan pojok yang biasa menemani malam-malamku, atau aku yang biasa menjatuhkan diri pada kursi coklat tempat biasa kukisahkan narasi.

Kali ini, aku mencoba merapikan folder dan file yang ada dikomputer. Memilihkan berdasarkan kategori, menempatkan berdasarkan jenis, dan memindahkan sesuai keprioritasannya. Lumayan banyak yang kupindahkan ke Recycle bin. Ada banyak cache selama ini. Reset, satu bagian penting dari peningkatan performa komputer.

Continue reading “Menata ulang rasa”

Senin Pagi Dibulan Juli

“Bagaimana, hari ini? Kamu siap dengan kemungkinan terburuknya?

“Insya Allah, bun”

Jarak dari rumahnya ke kota lumayan memakan waktu. Ia mengendarai Supra X yang dibeli Ibunda 7 tahun lalu. Tidak mogok, hanya saja kecepatannya tidak maksimal. Jaket hitampekat, baju merah dan jilbab warna krim menjadi pakaiannya hari ini. Sengaja ia lajukan motor tepat jam 7 pagi. Untuk menghindari kalau-kalau saja ada razia polisi dipersimpangan.

Continue reading “Senin Pagi Dibulan Juli”