Senja Menunggumu, Surya

Aku terus melihatmu berdiri diantara langit-langit senja. Kau duduk saja membawa pena tinta dan buku biru. Seperti menulis kisah lama kita. Sesekali kau menoleh ketimur laut memastikan perahu tiba. Tak kunjung tiba. Dan ini sudah hari ke 137. Tapi kau tetap saja menunggu. Pakaian terusan berbunga lavender ungu. Rambut gelombang tergerai bebas sebatas siku. Ingin saja rasanya kusapa dirimu. Namun aku jauh. Jauh dari pulau rontana, seberang pulaumu.

Continue reading “Senja Menunggumu, Surya”