Cerita Ramadhan #1

“Kak, hari ini mau buka pakai apa”

“Masak sarden tapi pakai cabe dan sardennya digoreng ya bu. Terus masak rebusan ikan mas”

Ramadhan selalu punya banyak cerita. Aku selalu request dengan kesukaan. Satu hal yang aku ingat. Aku selalu request sarden melulu ketika berbuka. Pernah suatu waktu batal puasa karena tergoda dengan masakan sarden kemarin malam. Entahlah, apakah ini benar makanan terfavorit atau hanya tergoda syaitan dibulan puasa.

Seusai sekolah dihari sabtu, selalu meminta ikut kepasar. Karena pasar dihari sabtu lebih ramai dan banyak yang berjualan. Ibu Sumi, penjual bumbu-bumbu. Selalu bercerita tentang makanan terbaru. Pak Budi, penjual ayam potong. Ibu selalu membeli ayam bagian leher dan kaki. Dan Makwo siti, penjual ikan. Salah satunya ikan mas yang akan dimasak untuk berbuka nanti.

Ramadhan kali ini, menjadi ruang evaluasi untuk tahun-tahun sebelumnya. Aku memang tidak pernah berlama-lama ketika ikut kepasar. Asal sudah melihat gulali dipersimpangan jalan, rasanya sudah senang. Sepulang dari pasar, selalu kurebahkan badan pada sofa sambungan lama bewarna maroon. Sudah lapuk memang. Posisinya sudah dibalik untuk mendapat ayunan. Lengkungan pada sandaran menjadi tempat favorit untuk melepas rehat dibulan puasa kala itu. Aku mengayun-ngayunkan diri, kalau-kalau saja aku lupa pada rasa lapar yang memenuhi. Aku tertidur, pun di sofa itu.

Matahari sudah berada diperempatan hari. Aku bergegas menuju kamar mandi. Ada baskom hitam bulat tempat penampungan air. Dan, sumur dengan gerekan air. Mandi kala itu rasanya lebih cepat dari hari-hari ini.

Dulu, masih banyak anak-anak yang tinggal digang rumahku. Sebelum berbuka, aku dan mereka selalu menghabiskan waktu dengan bermain kelereng, patuk lele, pancit, dan kelinci. Menjelang maghrib,

“Ratih, Pulaaaang, Mau Buka!!!!!!!!!

“Naldo, Baleeeeekk. Maghrib!!!

“Pit, pulang nak!

Suara-suara para emak saling bersautan memanggil para anak. Si anak bergegas pulang kembali kerumah masing-masing.

Semua sibuk mengambil peran masing-masing. Ada yang mengambil piring dan gelas, ada yang menyiapkan meja makan dan kobokan, ada yang menyiapkan lauk dan sayur, ada yang menyiapkan nasi dibakul, ada yang menyiapkan teh manis dan kolak ubi. Aku? selalu dapat jatah untuk membawa piring dan temannya.

“Aku mau teh saja, bu!

Si Ibu batal menuangkan kolak ke mangkok terakhir.

Rasanya, teh manis menjadi penawar dahaga yang sudah kutahan setelah beberapa hari ini. Selalu kalap ketika berbuka, minum teh, langsung makan nasi dan jajanan yang dibeli di pasar bedug. Alhasil, perut memberat.

“Maghrib dulu, tih!

“Iya bu!

Siaran TV ketika Ramadhan selalu menarik. Banyak sinetron sebelum daram korea menyerang. Aku, Ibu, Ayah, Datuk dan Nenek selalu mengisi waktu senggang sembari menunggu Tarawih. Ingat saja, dulu masih ada banyolan Trio Cagur.

Kini, mereka hidup di dunianya masing-masing

Menjelang subuh, 15 Februari 2012